Kini Gerakan Mahasiswa Seperti Katak Dalam Tempurung, Cenderung Mengikuti Isu Media Komersial
Tidak seperti ditahun-tahun ‘98 lalu, hampir seluruh komponen masyarakat mendukung perjuangan kawa-kawan. Dulu kawan-kawan dijejali dengan isu sentral tentang penjatuhan mbah Harto, dan usaha itu mendapat hasil yang sangat maksimal. Walaupun beberapa dari kawan kita gugur dalam pertempuran, sebut saja Elang Mulia dkk. Sebulan berjalan bahkan lebih, negara kacau balau, inflasi sangat tinggi, yang mengakibatkan nilai rupiah mencapai titik tertinggi, hingga Rp.17 000 per dolarnya. Ekonomi morat-marit, Negara bak ayam kehilangan induknya. Itulah satu dari sekian banyak catatan sejarah sukses yang di dengungkan mahasiswa.
Namun akhir-akhir ini diakui atau tidak kebanyakan orang menilai kawan-kawan yang mengaku Aktivis Prodem (pro demokrasi) agak kehilangan dukungan dari masyarakat kebanyakan. Wajar saja karena banyak hal-hal yang seharusnya tidak diapresiasi dengan aksi malah dibikin dan dibesar-besarkan. Padahal hal-hal seperti itu bisa diselesaikan dengan cara yang lebih permisif. Hal itu tentu membuat masyarakat “jengkel”. Gara-gara demo yang tidak perlu akhirnya jalanan macet. Apalagi aksi dilakukan dipusat-pusat kota, tentu hal tersebut sangat tidak efisien. Dikota-kota besar yang sudah terkenal macet ditambah lagi dengan aksi sia-sia, tentu amat merugikan masyarakat yang akan melanjutkan aktivitasnya lebih cepat.
Beberapa tahun terakhir kawan-kawan kehilangan ide, tidak tahu harus mengusung isu apalagi, setelah menuai kesuksesan besar. Bahkan kecendrungan mengikuti isu media-media harian. Padahal kalau mau berfikir lebih jauh, kenapa kita tidak membuat isu yang tidak pernah tersentuh media-media komersial. Hal itu pun tidak terlalu sulit bagi kawan kawan yang mau merelakan waktunya untuk sesekali mengunjungi saudara kita di kampung-kampung. Karena sebenarnya disanalah pusat-pusat masalah, dan yang selalu menjadi korban penguasa adalah mereka-mereka yang tinggal disana. Tanah mereka sengaja dirampas, dimiskin-kan, bahkan diisolasi, arus informasi pun dihambat. Sungguh penguasa amat zalim “Naudzu Billah Min Dzalik”. Selama ini, diakui atau tidak kita mengikuti arus media komersial, padahal kita sendiri tidak tahu idealisme media tersebut. Biasanya media, apalagi media komersial, sudah barang tentu dia bermotif ekonomi, ditambah lagi dibelakangnya didorong kendaraan politik. Huh, celakalah kawan-kawan yang mengikuti mereka.
Tentu kita berharap kawan-kawan Aktifis Prodem membuat isu sendiri yang digali dari masalah-masalah yang menyentuh rakyat di kampung-kampung yang terpinggirkan. Kalau kita renungkan lebih jauh di desa sangat banyak sekali masalah, seperti yang saya sebutkan diatas. Kampung bisa kita jadikan laboratorium alam, dan semua background keilmuan bisa masuk didalamnya. Entah itu ekonomi, hukum, teknik, pertanian, kedokteran, kesehatan masyarakat, dan masih banyak lagi. Ayo tebak masalah apa saja itu, kufikir kawan-kawan pasti sudah tahu dan tidak perlu diuraikan lebih detail. (Bersambung..)!
Namun akhir-akhir ini diakui atau tidak kebanyakan orang menilai kawan-kawan yang mengaku Aktivis Prodem (pro demokrasi) agak kehilangan dukungan dari masyarakat kebanyakan. Wajar saja karena banyak hal-hal yang seharusnya tidak diapresiasi dengan aksi malah dibikin dan dibesar-besarkan. Padahal hal-hal seperti itu bisa diselesaikan dengan cara yang lebih permisif. Hal itu tentu membuat masyarakat “jengkel”. Gara-gara demo yang tidak perlu akhirnya jalanan macet. Apalagi aksi dilakukan dipusat-pusat kota, tentu hal tersebut sangat tidak efisien. Dikota-kota besar yang sudah terkenal macet ditambah lagi dengan aksi sia-sia, tentu amat merugikan masyarakat yang akan melanjutkan aktivitasnya lebih cepat.
Beberapa tahun terakhir kawan-kawan kehilangan ide, tidak tahu harus mengusung isu apalagi, setelah menuai kesuksesan besar. Bahkan kecendrungan mengikuti isu media-media harian. Padahal kalau mau berfikir lebih jauh, kenapa kita tidak membuat isu yang tidak pernah tersentuh media-media komersial. Hal itu pun tidak terlalu sulit bagi kawan kawan yang mau merelakan waktunya untuk sesekali mengunjungi saudara kita di kampung-kampung. Karena sebenarnya disanalah pusat-pusat masalah, dan yang selalu menjadi korban penguasa adalah mereka-mereka yang tinggal disana. Tanah mereka sengaja dirampas, dimiskin-kan, bahkan diisolasi, arus informasi pun dihambat. Sungguh penguasa amat zalim “Naudzu Billah Min Dzalik”. Selama ini, diakui atau tidak kita mengikuti arus media komersial, padahal kita sendiri tidak tahu idealisme media tersebut. Biasanya media, apalagi media komersial, sudah barang tentu dia bermotif ekonomi, ditambah lagi dibelakangnya didorong kendaraan politik. Huh, celakalah kawan-kawan yang mengikuti mereka.
Tentu kita berharap kawan-kawan Aktifis Prodem membuat isu sendiri yang digali dari masalah-masalah yang menyentuh rakyat di kampung-kampung yang terpinggirkan. Kalau kita renungkan lebih jauh di desa sangat banyak sekali masalah, seperti yang saya sebutkan diatas. Kampung bisa kita jadikan laboratorium alam, dan semua background keilmuan bisa masuk didalamnya. Entah itu ekonomi, hukum, teknik, pertanian, kedokteran, kesehatan masyarakat, dan masih banyak lagi. Ayo tebak masalah apa saja itu, kufikir kawan-kawan pasti sudah tahu dan tidak perlu diuraikan lebih detail. (Bersambung..)!
Label: jangan apatis, Mahasiswa
0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda